42 Hari Menuju 2021: Ibumu

Teruntuk anakku di masa depan.

Hai, ini aku: perempuan yang melahirkanmu. Aku belum berani menentukan dengan sebutan apa kau akan panggil aku. Mama, ibu, bunda, mommy, atau apapun. Mungkin saja kau lebih nyaman dengan menyebut namaku. Tenang saja, aku berbeda dengan yang lainnya. Aku nyaman kau panggil apa saja, asal kau masih mengenaliku sebagai orang yang melahirkanmu dan menghargai aku untuk itu. Oh, bagaimana kalau kita tentukan saja untuk saat ini? Mungkin, akan lebih mudah jika saat ini kusebut saja diriku Ibu. Ya, Ibumu. Kamu bisa mengubah sebutan ini sesukamu saat kamu bisa berbicara nanti.

Anakku,

Sejujurnya, Ibu menulis surat ini tanpa tujuan. Ibu belum tahu apakah kamu akan lahir di dunia atau tidak, kapan kelahiranmu, dan siapa kamu nanti.

Bahkan siapa Ayahmu, Ibu belum tahu karena hingga saat ini, mungkin dia yang telah datang ke rumah ibu untuk memperkenalkan dirinya beberapa waktu kepada kakek dan nenekmu. Ibu juga berharap dia orangnya. Lucunya Ibu sudah berpikir cukup jauh, Ibu sudah menyiapkan namamu –paling tidak panggilanmu. Entah kamu lahir sebagai seorang lelaki atau perempuan, yang jelas kamu lahir karena cinta Ibu dan Ayahmu dan kamu mendapatkan cinta yang sangat besar dari kami berdua karena kelahiranmu saat itu sangat dinantikan. Bagaimana, apa kau suka dengan nama yang Ibu berikan padamu? Ibu harap kamu juga menyukainya seperti ibu menyukaimu hingga berani mengirimkan surat ini untukmu.

Meskipun saat ini kamu bahkan belum lahir, ibu memiliki sangat banyak harapan untukmu. Namun, Ibu tidak ingin kamu terbebani dengan semua harapan-harapan yang ibu gantungkan. Kamu bebas hidup dengan caramu sendiri, dan ibu akan menjadi sahabatmu: mendukung dan mendorong semua hal positif yang dapat membantumu bertumbuh menjadi manusia baik. Tentu saja, di masa depan bukannya tidak mungkin akan ada hal negatif yang datang. Namun, kamu perlu ingat: kamu punya Ayah dan Ibumu yang selalu ada, menerima kamu dengan segala keadaanmu. Cinta orangtuamu tidak akan pernah berkhianat. Ibu janjikan itu padamu. Namun, bolehkah Ibu menyampaikan sedikit saja harapan Ibu padamu?

Ibu berharap kamu mendapatkan cinta yang berlimpah dari orang-orang di sekitarmu. Kamu berbahagia dengan hidupmu saat ini, dan menjadi manusia yang pandai bersyukur atas apa yang kamu miliki. Ibu harap, kesedihan hanya sebentar mampir padamu karena itu tak apa. Setelah itu, kamu kembali bangkit, kuat dan bertumbuh menjadi pribadi yang baik dan penuh cinta kepada sesamamu. Kamu boleh bersedih, nak. Secukupnya saja, tidak perlu berlarut.

Anakku,

Apa kamu percaya dengan dunia magis? Ibu percaya bahwa semesta memiliki sisi magisnya sendiri yang sulit dipahami manusia. Kau tahu? Semesta membocorkan secil rahasianya pada Ibu: semesta memberitahu mantra-mantra. Kau tahu mantra? Kata-kata magis yang digunakan oleh orang-orang untuk melakukan perubahan pada dunia dan kali ini akan ibu ajarkan padamu. Mantra yang akan ibu ajarkan ini adalah sesuatu yang akan membuat hidupmu lebih tenang, dan bermakna. Ada 3 mantra yang perlu kau ingat baik-baik, dan digunakan pada saat yang berbeda: Maaf, gunakanlah saat kau berbuat kesalahan kepada seseorang. Tolong, pakailah mantra ini saat kau sedang kesulitan dan perlu bantuan orang lain dan Terima Kasih, ketika seseorang telah membantumu melakukan sesuatu, atau memberikanmu kesempatan untuk melakukan sesuatu. Jangan sampai salah, karena nanti efeknya akan berbeda! Bila kau lupa, Ibu bisa membantumu untuk mengingatnya lagi. J

Oh, ada satu lagi yang semesta ajarkan pada Ibu. Jadilah pribadi yang mampu berkata cukup. Kata ‘cukup’ memiliki daya magis yang luar biasa: ia mampu untuk membuat kita lebih bahagia atas apa yang kita miliki. Kata cukup membuat kita mampu berbagi kelebihan, dan bijak menyikapi kekurangan. Kata ini mampu membuat kita tidak berlebihan dan bersyukur atas apa yang kita miliki walaupun sedikit. Perlahan, kamu akan menyadari bahwa kita hidup di dunia ini adalah tentang berbagi. Untuk apa kita memiliki hal berlebih sedangkan orang lain sedang berkekurangan? Bukankah akan lebih membahagiakan ketika semua orang merasa bahagia karena cukup?

Anakku,

Mungkin nanti, Ibu tidak akan mampu menjadi orangtua yang terbaik untukmu. Mungkin nanti Ibu berekspektasi banyak padamu, menggantungkan banyak harapan padamu. Maaf. Namun, aku berjanji tidak akan membandingkanmu dengan siapapun, karena kamu punya hidupmu sendiri dan aku adalah sahabatmu. Ingatkan aku bila aku terlalu jauh berharap padamu, ingatkan aku ketika aku sudah berlebihan. Aku hanya ingin kamu menjadi manusia yang bahagia dan penuh cinta, apapun yang terjadi.

Ah, Ibu bingung bagaimana mengakhiri surat ini. mungkin nanti Ibu akan menulis lagi untukmu –semoga kamu tidak merasa aneh saat membacanya, karena Ibumu ini memang sedikit aneh. Saat ini, Ibu sedang merayakan Hari Anak Universal dan teringat padamu di masa depan: seperti apa rupamu, apakah akan mirip aku atau ayahmu dan apakah kami akan mampu menjagamu sejak lahir hingga dewasa. Semoga di masa depan, Ibu bisa memenuhi semua butuh dan inginmu atas kasih sayang dari kami, orangtuamu nanti. 

Sampai ketemu di masa depan, Nak.

 

Salam sayang,

Ibu

Comments

Popular Posts