29 Hari menuju 2021: Mengeraslah lagi
Beberapa orang pernah bilang, “Ki, kamu terlalu keras pada dirimu sendiri. Jangan, hal itu hanya akan menyiksa dirimu sendiri”. Entah mengapa hal itu efektif untuk saya: hampir semua target berhasil saya capai, seluruh pekerjaan saya beres, dan kepuasan atas ambisi pribadi saya sebagai seorang manusia dan perempuan di usia duapuluhan terpenuhi walaupun pada akhirnya harus dibayar dengan kelelahan fisik dan mental. Badan saya banyak lebam karena bekerja seharian, pikiran saya penuh dengan berbagai macam ide yang perlu dirunut satu persatu karena semuanya berupa pecahan beling yang harus disusun rapih agar berbentuk, bermanfaat dan tidak melukai. Hingga pada akhirnya seseorang datang, menyebut dirinya sebagai teman hidup yang akan mendampingi hingga akhir meruntuhkan seluruh rasa keras hati yang sudah saya bangun selama ini. Dia datang, seolah hadir dihadapan saya untuk membuktikan bahwa saya hanya manusia biasa dan seorang perempuan yang butuh tempat berpulang, teman bercerita dan tempat bersandar. Seluruh rasa keras, ambisi dan nafsu akan kehidupan sendiri akhirnya runtuh begitu saja menjadi keinginan untuk menanggung segalanya bersama, bercerita, berpulang dan bersandar.
Hari berganti, waktu bersama
semakin sering, dan semakin banyak hal yang berubah. Mimpi yang dulunya
sendiri, kini bersama. Ambisi yang dulu ada, kini hilang. Keras yang dulu
membatu, melunak seperti jelly yang dibuat mama ketika menjelang buka puasa
dibulan ramadhan. Entah, apa memang saya berubah--atau menjadi orang lain. Saya
masih belum menemukan jawabannya. Saya berubah menjadi seorang perempuan biasa
yang menemukan tempat sandaran, melibatkan dia dalam setiap sendi hidup dan
keputusan yang diambil dengan dalih ‘toh dia akan hidup bersama saya hingga
akhir, apapun yang terjadi’. Padahal, tidak ada jaminan sama sekali bahwa hal
itu akan terjadi dengan keadaan seperti ini. Dia mulai menunjukkan siapa dirinya,
dan sayapun demikian yang akhirnya membuat kami saling bertanya pada diri
sendiri: diakah orangnya? Orang inikah yang akan menjadi teman hidup saya
hingga mati nanti? Bagaimana bisa saya menuntut dia untuk berubah sedang dia
memang demikian? Dan, apakah saya harus terus menjadi orang lain untuk menjaga
rasa inginnya hidup bersama saya? ah, saya mulai overthinking lagi.
Satu hal yang sangat terasa dan
akhirnya menjadi pengganggu: insting sebagai perempuan yang ingin terus
bersama, dan bermanja pada orang terdekat. Akhirnya melunak pada diri sendiri
menggiring saya kepada dua hal menjijikkan itu. Saya menjadi lemah, tidak
independen untuk keputusan diri sendiri yang akhirnya mengganggu hubungan ini.
Namun lucunya ketika saya menjadi independen, saya dianggap tidak merasa telah
memiliki teman. Ah ini sungguh serba salah. Secukupnya? Apa indicator secukupnya?
Saya tidak paham itu. Yang jelas, hal ini akhirnya mengganggu. Mengganggu kehidupan
saya sebagai pribadi yang merdeka, dan pribadi yang telah memutuskan menerima
seseorang sebagai teman hidupnya. Saya terlalu melunak, hingga hampir cair
rasanya. Inginnya dibiarkan saja, namun bila mengganggu maka harus
disingkirkan: saya harus menjaga rasa lunak ini agar tidak menjadi cair—bila perlu
lebih dikeraskan. Saya memutuskan untuk kembali menjadi pribadi yang dingin—kedinginan—lagi.
Membuang perasaan menjijikkan sebagai seorang perempuan yang butuh tempat untuk
berpulang, bercerita dan bermanja, dan menjadi seseorang yang melepaskan
segalanya sendiri, dalam diam kepada Tuhannya. Manusia memang tidak bisa
diandalkan, seberapapun hebatnya dia, seindah apapun janjinya.
Ki, kembali ke
dirimu yang dulu. Umurmu masih muda dan banyak hal yang bisa kamu capai bila
kamu membuang perasaan-perasaan itu. Ambisimu masih terlalu besar untuk dibuang
hanya karena ada seseorang yang menjanjikanmu hidup yang manis. Pulanglah, dan
jangan pedulikan mereka yang mengecap kamu sebagai robot nantinya. Mereka tidak
pernah tahu apa yang harus kamu lewati, hingga akhirnya kamu terpaksa menjadi
seperti seorang robot. Mereka hanya melihat hasilmu, dan nanti, mereka akan
sadar bahwa dialah penyebab kamu seperti ini, karena ketika kamu menjadi
manusia dan seorang perempuan, merekalah yang menuntut kamu agar tidak menjadi
manusia dan perempuan.
Diamkan saja,
dan teruskan hidupmu sendiri; jangan lagi pakai perasaan lemah itu. Mengeraslah, lagi.

Comments
Post a Comment