6 Hari Menuju 2021: Am I Ready?
Hey,
I know, I know. Hari ibu ini bukan tentang seorang ibu yang memiliki anak dan rasa sayang seorang anak kepada ibunya. Namun dengan membanjirnya ucapan selamat seorang anak kepada ibunya, tentang rasa cinta antara seorang anak dan seorang ibu, membuat saya menjadi berefleksi tentang masa depan saya sendiri. Tentang seperti apa saya ingin dikenal sebagai seorang ibu nantinya. Ini bukan tiba-tiba sebenarnya, namun memang selama ini saya merasa seperti belum terlalu perlu memikirkannya hingga akhirnya berada pada titik ini.Beberapa saat terakhir, ada seseorang yang mendekat. Membicarakan mimpi, membicarakan masa depan dan merencanakan keluarga yang akan dibangun bersama saya, juga tentang kehadiran seorang anak diantara kami berdua. Kedekatannya memang masih baru, namun rencana yang dibicarakan sudah cukup jauh yang membuat saya juga akhirnya perlu untuk memikirkan seperti apa masa depan saya sebagai seorang ibu nantinya. Secara sadar, saya sudah membicarakan tentang diagnosa dokter yang menyatakan saya sulit memiliki anak bahkan besar kemungkinan tidak bisa, namun secara tidak sadar saya mulai mempersiapkannya perlahan: saya mulai mencari informasi tentang kehamilan, kelahiran dan mengurus manusia kecil yang bahkan saya tidak tahu apakah akan benar-benar lahir atau tidak. Saya mulai merencanakan kehidupan kami, apa yang akan saya lakukan untuk mendukungnya bertumbuh. Nak, sepertinya ibumu sudah mulai mencintaimu bahkan sebelum kamu ada! Haha
Hey nak, sejujurnya, ibumu ini sedang kebingungan apakah sebenarnya menginginkan kamu atau tidak. Di satu sisi, saya masih ingin mewujudkan mimpi-mimpi yang sudah dituliskan dalam buku. Namun di sisi lain, saya justru membayangkan seperti apa hidup saya bila kamu ada. Seperti apa hidup saya bersama kamu, bapakmu dan orang-orang yang mencintai kamu. Di sisi lainnya lagi, saya memikirkan bagaimana bila saya dan bapakmu nanti, tidak mampu mendukung hidup dan mimpimu. Saya takut bila nanti, kamu menjadi tidak bahagia dengam hidupmu bersama kami.
Pernah suatu saat saya berpikir bagaimana bila kehadiranmu nanti terjadi pada waktu yang tidak tepat. Ketika kami semua tidak merencanakan keberadaanmu, dan kamu adalah seseorang yang membuat kami terpaksa siap. Nak, saya tidak ingin kamu merasakan itu, saya tidak ingin kamu merasakan penolakan dari kami berdua. Tapi, sayapun bingung bagaimana kesiapan yang sepantasnya dipersiapkan untuk kehadiranmu. Saya berada dalam persimpangan: menikmati masa sendiri dan berdua ini, atau mempersiapkan kehadiranmu sebaik mungkin. Konyol memang karena memang bahkan saya belum mempersiapkan apapun dari segi material. Mental? Entahlah. Terlalu banyak pengalaman yang saya baca tentang menjadi seorang ibu yang membuat saya merasakan dua hal: everything is gonna be okay, or everything is gonna be fucked up.
Entah, mungkin terlalu awal untuk memikirkan ini. Namun ketika rencana-rencana itu sudah dibuat, saya harus memikirkannya juga, kan? Am I ready to be a mom or not.

Comments
Post a Comment