Omong Kosong

 Di pembicaraan saat itu, saat kita merencanakan masa depan kita, pilihan yang akan kita ambil dan rencana-rencana di masa depan, Ada satu kalimat yang sebenarnya ingin kuucapkan saat itu. Namun anehnya kalimat itu hanya tertahan di kerongkongan, tidak mampu keluar. Kalimat itu, entah mengapa, tertelan kembali. Seperti mengetahui sesuatu, ia memutuskan untuk tidak keluar dari mulutku. Mungkin ia takut menyakiti hatiku lagi. Kalimat itu takut dengan apa yang akan diterima setelahnya: balasan dari kalimat itu--kalimat spontan yang sesungguhnya merupakan kejujuran dan kalimat menyakitkan lainnya yang mampu membawa racun masuk ke dalam hati melalui telinga, membunuhnya perlahan. 


Merasakan kalimat itu turun dan kembali tinggal didalam dada melalui syarafnya, otakku menjadi ikut campur, "apa kubilang, keterbukaan membuat lega? Omong kosong. Kau hanya akan menyakiti dirimu dan orang lain dengan keterbukaan. Pendam saja. Sudah biasa kan? Dadamu bisa menahan rasa sakit selama ini, kenapa kali ini sulit? Akan selalu ada kesakitan yang lebih sakit dari ini. Kamu perlu membiasakan diri agar dadamu tidak terasa terlalu sakit. Kenapa seringkali merasakan hal yang sama tapi selalu tidak terbiasa?"

"Karena walaupun sama menyakitkannya, sensasi sakitnya selalu terasa baru.." jawab hatiku perlahan. Suaranya lirih; ada lagi yang ditahannya kali ini. Mungkin ia sudah melihat batas usianya. Hatiku sudah mulai sekarat.

Comments

Popular Posts