Cawan

 Be, apa kabar?

Semoga kamu baik-baik saja disana. Bagaimana langit siangmu disana? Apa berwarna biru cerah, atau mendung seperti langitku hari ini? aku harap cahaya matahari selalu cerah dilangitmu meski kita berada dibawah langit yang sama. Ya, hari ini ruteng hujan lagi. Seperti biasa, aku masih menunggumu untuk datang didepan pintuku. Tapi, seperti biasa juga kamu tidak ada. Harapanku selalu kosong. Entah apa alasannya aku terus menunggumu yang aku sendiri sangat paham bahwa kedatanganmu hanyalah imajinasi. Terus terang aku sudah berusaha untuk menghilangkan imajinasi-imanjinasi bodoh ini, namun mereka tetap saja muncul dengan harapan kosong yang akhirnya merusak semua perasaanku setiap harinya. Meskipun aku sudah meyakinkan diri sendiri bahwa aku bukanlah pusat duniamu sama sekali dan kamu tidak memiliki kewajiban untuk menepati janji-janjimu, bahkan menjaga perasaanku.

Be,

Banyak sekali pikiran-pikiran yang muncul belakangan ini tentang kita berdua. Tentang semua keputusan yang kita ambil, tentang semua rencana yang kita buat dan waktu singkat yang kita jalani. Apakah semua ini sudah benar, ataukah salah. Apakah semua ini sudah tepat waktunya, ataukah terlalu cepat, atau mungkin terlambat sama sekali. Apakah kita memang untuk satu dengan yang lain, atau kita hanya bersama untuk memberikan pelajaran pada satu sama lainnya. Apakah selama ini aku yang salah, kau yang salah atau memang semua ini salah. Aku sempat berpikir bahwa ini memang hal yang perlu kita jalani sebagai proses, namun kenapa rasanya berat sekali. Rasanya seperti terhempas ke antah berantah dan berantakan.

Aku kembali merasa kesepian, seperti yang kamu rasakan selama ini. perbedaannya, kamu bisa mengisi kesepian itu dalam diriku, namun tidak sebaliknya sehingga perasaan yang tidak kukenali sebelumnya ini muncul. Memang benar, ketika kita menentukan tujuan kita pada seseorang, harapan akan bermunculan. Perlahan, kita membunuh diri kita sendiri. kesepian yang kuisi dengan dirimu ternyata membuat orang yang kusayangi itu menjadi lebih kesepian dan tidak yaman denganku. Tapi, aku bisa apa? Perasaan ini sudah terlanjur dalam.

Pernah sekali, aku mencoba menahan semua perasaan agar tidak tertumpah seluruhnya padamu. tapi itu malah menyiksaku sendiri. Kau tidak mau menampungnya, sedang aku memaksa untuk terus mengisi hingga cawan hatimu penuh dan meluap. Aku kecewa karena meluap, hingga berubah menjadi kemarahan. Dan sekali lagi, itu menyiksamu. Aku jadi bingung, apa yang harus aku lakukan dengan perasaan yang meluap ini. haruskah dibuang saja, ataukah menemukan cawan lainnya yang bisa cukup untuk menerima semuanya. Tapi, herannya yang aku inginkan adalah kamu. Bodoh, ya? Aku sudah diperbudak perasaanku sendiri.

Hari ini, aku sudah menghancurkan semuanya. Sepertinya aku juga sudah membuat cawanmu retak. Aku ingin berusaha memperbaikinya, namun aku tidak tahu bagaimana caranya. Semua lem milikku habis untuk memperbaiki milikku sendiri yang pecah berkali-kali karena harapan kosong yang kamu berikan berkali-kali. Selain itu, aku juga ingin melihat usahamu untuk turut memperbaiki, paling tidak kita perbaiki bersama. Namun, tidak juga.

Be,

Jujur saja. Aku masih menginginkan semuanya baik walaupun masih ada retakan-retakan yang ada. Namun, bila kamu tidak inginkan itu lagi, maka semua akan tetap tercerai. Cawan kita, sudah hancur. Terkadang, aku ingin menyalahkanmu. Tapi aku harus tahu semua jawaban dari pertanyaan yang muncul di kepalaku. Apa yang salah? Apa yang membuatku bisa menyalahkanmu, sedangkan aku sendiri tidak ingin menyalahkanmu- tidak ingin kehilangan kamu.

Tentang semuanya yang sudah hancur: bisakah kamu memberitahu apa yang harus kulakukan selanjutnya? Apakah kamu ingin kita perbaiki, atau kita biarkan saja semuanya hancur begitu saja? Aku tidak membuka pilihan untuk memperbaikinya sendiri-sendiri.

Comments

Popular Posts