Long Time No Write
Hai.
Jangan tanya apa kabar, karena kamu pasti tau saya tidak
sedang baik-baik saja kalau muncul disini. Hahaha
No, I’m just kidding. I am okay. Probably. Hanya memang
jarang nulis lagi karena mungkin sedang lupa kalo punya blog yang tergantung
mood perlu diisi. Sebenernya banyak banget sih yang mau diceritakan, tapi
mungkin lewat suara aja, tapi podcast juga emang jarang diisi. Yep, I found
someone to share with. Saya udah dilamar maret kemarin, dan akan menikah di
pertengahan tahun ini. menikah dengan orang yang (mungkin) masih baru karena
kami baru berkenalan setahun terakhir dan beberapa waktu kemudian memutuskan
untuk menikah. Kedengarannya gila, tapi memang itu yang terjadi belakangan ini.
saya sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada diri saya, mungkin memang sedang
dimabuk cinta. Haha
Akhirnya pencarian saya selesai sudah, dengan memutuskan
untuk settle down dengan seseorang, yang belakangan menjadi bahan cerita, bahan
tulisan random saya yang selama ini mungkin selalu saya sangkal. Beberapa pertanyaan
yang akhirnya tidak ada, atau bahkan saya temukan jawabannya dalam perjalanan
saya beberapa bulan terakhir ini tentang pernikahan. Soal indikator kesiapan
seseorang untuk menikah, atau orang yang seperti apa yang ingin saya nikahi. Bagaimana
rencana saya kedepan, dan bagaimana saya mengesampingkan seluruh ambisi saya
untuk mewujudkan semua mimpi pribadi saya dan menetapkan rencana pernikahan
saya sebagai salah satu rencana prioritas yang harus dilaksanakan dalam waktu
dekat ini.
Namun, mungkin memang godaan menjelang nikah ya, ada saja. Mulai
dari hal sepele hingga hal-hal yang mengancam rencana itu sendiri. bahkan saat
ini saya juga dihantui keraguan, apakah memang benar saya sudah siap menikah,
atau ini adalah salah satu dari sekian banyak keputusan ceroboh yang sudah saya
ambil. Ketakutan-ketakutan mulai muncul: kalau baru pacaran saja dia sudah
begini, bagaimana bila nanti kalau sudah menikah? Kalau saya masih saja
dikesampingkan disaat seperti ini, apakah saya hanya perlu diam saja? Lalu,
apakah dia akan menerima saya yang seperti ini, ataukah nantinya aka nada tuntutan-tuntutan
baru yang bahkan tidak bisa saya penuhi? Apa sebenarnya motif saya menikah
dengan dia? Apa tujuan saya? jangan sampai saya hanya menyalahkan tuntutan lain
untuk segera menikah, sehingga saya memutuskan untuk menikah?
Ah, pemikiran-pemikiran seperti ini terkadang cukup mampu
membunuh perasaan sendiri, ditambah dengan keadaan yang tidak kunjung membaik. Bertengkar,
baik, bertengkar lagi lalu membaik lagi. Lalu bertengkar lagi hanya karena
masalah yang sama. Kadang saya berpikir apakah saya akan tahan dengan
pertengkaran yang sama dengan masa sekarang ini ketika sudah menikah nanti? Ataukah
saya sudah harus memikirkan solusinya sejak sekarang? Ah, berat sekali rasanya.
Namun akhirnya saya menyadari bahwa memang selalu ada
tantangan menjelang pernikahan. Mungkin, ini fase saya sekarang. Tapi kok
rasanya lumayan berat ya hehe. Akhirnya memutuskan kalau memang terjadi,
terjadilah. Toh menikah bukan berarti mimpi saya yang lain harus dihentikan. Mungkin
hanya perlu menurunkan skala prioritasnya seperti sebelumnya, jauh dibawah
mimpi-mimpi yang sudah dirancang sebelumnya. Toh menurunkan skala prioritas
bukan berarti tidak penting. Hanya dikesampingkan agar tidak menghambat yang
lain. bukan berarti saya tidak siap. Saya yakin saya cukup siap kok, saya cukup
perhitungan. Namun, kita tidak bisa memaksakan orang yang sedang berjalan
dengan kita untuk siap seperti kita. Mungkin saja calon suamiku itu lagi khilaf
waktu ngajakin nikah dan saya dengan bodohnya mengiyakan tanpa menanyakan
apakah dia sepenuhnya siap untuk berkomitmen. Hahahahaha. Ini mungkin lho ya,
mungkin.
Lah ini kok malah curhat soal nikah sih hahahhahaha ketahuan
banget kalo lagi gak enak kondisinya. But, the good news is I am still working
on the preparation. Hanya mungkin porsi saya banyak yang saya buang, atau
mungkin serahkan ke orang lain untuk lakukan persiapan. To be honest, saya
sudah sangat tidak tertarik untuk membicarakan persiapannya. Yang penting sah
aja udah, soal yang lain, serahkan aja ke yang lebih bisa. Sepertinya saya
sudah harus merelakan rencana pernikahan sesuai dengan mimpi saya sendiri,
sesuai dengan rencana saya. Kadang, kita hanya perlu duduk manis dan membiarkan
semuanya bergerak begitu saja walaupun mungkin saya bakal menyesal
habis-habisan karena pernikahan saya kacau. To be honest, again, I don’t expect
many things. Bayangan saya udah kabur sama sekali. Yang jelas mungkin hanya
bill yang harus saya dan pasangan tanggung. Ya, cukup realistis saya pikir.
Sekali lagi nih saya tanya ke diri sendiri: Ki, beneran udah
siap nikah? Apa benar dia orangnya? Atau kamu hanya gegabah (lagi)? Atau, ini
adalah bagian dari ‘terpaksa siap’mu lagi?

Comments
Post a Comment