Karma

Hey.

Agak cerewet ya belakangan ini haha

Indeed, saya juga merasa sangat banyak bicara belakangan ini hingga beberapa orang akhirnya terlihat menghindar dari saya, beberapa penolakannya terlihat sangat nyata. Tapi, gakpapa. Saya sudah belajar untuk menangani rasa kedinginan itu sekarang. Cold never bother me anyway¬

Kali ini, saya mau berbicara tentang diri sendiri lagi. Ya Iya, memang semua blog ini tentang saya kan? Haha (see? Saya mulai bicara ngelantur lagi.. sepertinya harus mulai ngepodcast lagi). Hari ini saya mau bicara soal karma. Yep, karma. Kamu tahu kan konsep karma? Apa yang kamu lakukan akan kembali kepada kamu sendiri. Mau baik, mau buruk. Semuanya akan kembali. Kepercayaan sejenis ini biasanya ditemukan dalam aliran agama hindu tapi sepertinya ini juga sedang terjadi pada saya, entah benar atau salah. Aih, entah darimana saya mendapatkan ide menulis hal seperti ini.

Anyway, kembali ke pokok pembahasan. Yep, I think I am getting my karma right now. Let me explain first.

Kamu, yang sudah mengenal saya sebelumnya (mungkin membaca semua tulisan saya sejak awal menggunakan blog sebagai media curhat hingga 5x berganti blog hanya karena kelabilan pasti paham soal hubungan saya dengan makhluk yang disebut sebagai laki-laki yang datang dan pergi dalam kehidupan ini. ahhahahhaha). Okay, kalau kamu paham soal itu, maka kamu tahu bahwa tulisan-tulisan saya juga bercerita tentang bagaimana saya memperlakukan mereka hingga saya disebut heartbreaker (?) bagi orang-orang yang membuat panggilan tersebut karena mendengar semua cerita dari sebelah pihak. No, I definitely not trying to defend myself here. Saya mengakui apa yang saya lakukan kepada mereka adalah hal yang buruk demi memenuhi ekspektasi, keinginan dan harapan yang saya gantungkan. Yep, saya mengaku dosa. Saya salah di bagian itu dan hari ini, semua perlakuan saya kepada orang-orang itu kembali melayang-layang di kepala. Bagaimana saya memperlakukan mereka dengan cukup buruk, I treated them like a crap.. oh God, what did I do to my life.

Saya gak pernah dengerin apa kata pasangan saya, menganggap kebohongan adalah hal yang biasa karena ketika menikah saya tidak akan bisa ‘nakal’ seperti ini lagi. Saya cukup sulit menghargai mereka karena mereka orang yang cukup dekat, yang membuat saya dengan mudahnya meminta maaf dan akan membaik dengan sendirinya tanpa menyadari bahwa hal itu sudah menyakiti mereka. And the worst part is I left them when I found the better one. I always did without considering anything. Once I fell in love with the new one, I forget the good time I spend with the old one. Such a bad bitch. I just realized that I am the villain here. Not them while I pretending like a victim in our relationship, till I get bored and decided to get some space to be alone a year ago, hoping will find the one to settle down and the karma will not come to me. But noooo you can’t escape from the karma thing. It will find their way back to you and here I am, decided to settle down with a man who treat me just like what I did to my Exes. He doesn’t hear me, he lied and I don’t know yet if he fell to somebody new which I hope it will never happen. Duh saya kok malah curcol pake bahasa aneh. Habis nonton Grey’s Anatomy lihat Torres ngomel pake Spanish tanpa sadar, saya ngetik juga tanpa sadar (not meaning to show off but just too lazy to re-type that in bahasa hiks).

Pelajaraaan pelajaran banget ini. sekarang, saya udah jalan setengah nih, selangkah lagi udah benar-benar settle down. Mau ngeluh gak bisa lagi kan, karena saat ditanyai saya jawabnya udah siap untuk terima dan bisa handle semua kelebihan dan kekurangan, menerima segala resiko. Ya, saya pikir ini resiko saya sekarang karena hal yang saya lakukan di masa lalu. Ini karma. (mungkin) Dia adalah bentuk karma yang kembali kepada saya. Saya sudah memutuskan untuk hidup dengan karma saya sendiri dan akan hidup dengannya sampai mati. Saya menerimanya, karena saya sadar masa lalu tidak akan bisa berubah untuk memperbaiki karma saya yang ini. So I decided to accept it, forgive myself and living in peace with it. Yang perlu saya lakukan mungkin akan lebih ke menjaga perasaan saya sendiri agar tidak lebih sakit akibat perbuatan saya sendiri di masa lalu. Ya, saya sudah menerima karma saya sendiri. Kadang saya berpikir buruk kepada para mantan-mantan itu, mungkin saja ini salah satu doa dari mereka agar saya menerima karma dari kesakitan yang saya berikan dulu kepada mereka. Entah mantan yang mana hahahahhaha. Tapi, saya harus menghentikan pikiran ini: tidak bagus untuk mental sendiri jika menyalahkan pihak lain yang mungkin saja tidak tahu apapun, sedang dalam hati kita sadar bahwa ini adalah kesalahan dari dalam diri kita sendiri.

Bagi kamu yang membaca ini dan menganggap ini sudah mulai toxic, sebenarnya ini racunnya berasal dari saya sendiri. Saya sedang meminum racun yang saya buat sendiri secara sukarela. Jadi, bila kamu belum memutuskan untuk settle down, please be nice with everyone. Be nice with the one you are with now. He, she, them or anyone can bring you karma that you never think of before. Trust me.

Comments

Popular Posts