Mengelola Perasaan Sendiri
Ada satu hal yang saya pahami tentang tubuh saya sendiri setahun belakangan ini. Sedikit konyol memang, tapi ini terjadi kepada saya. Saya sering merasa kedinginan ketika punya masalah. Banyak hal, apapun masalahnya. Namun, yang paling terasa adalah ketika saya mulai berhubungan dengan Sur. Setiap kami bertengkar atau saat saya merasakan penolakan dari dia (entah karena memang dia ingin sendiri atau hal lainnya) tubuh saya langsung menggigil, dan rasanya sangat dingin. Saya tidak paham apa yang terjadi pada tubuh saya. Hahaha. Saya sendiri belum menemukan penjelasannya bagaimana.
Pernah sekali, kami bertengkar hebat dan setelah itu tidak berbicara beberapa waktu. Selama beberapa hari, tubuh saya selalu merasakan kedinginan. Seorang teman yang saat itu bersama saya keheranan, bagaimana bisa dengan cuaca sepanas itu saya merasakan kedinginan. Iseng, saya mencoba untuk ke swalayan dan mengukur suhu tubuh menggunakan thermometer yang dipakai saat pelanggan masuk. Suhu tubuh saya masih dalam angka normal, katanya. Saya lalu mencoba untuk berpindah tempat, melipir ke daerah panas. Harapannya, rasa dingin itu berubah. Eh, malah tambah kedinginan. Di daerah itu saya terus saja menggunakan jaket ketika orang yang berlalu lalang ada yang menggunakan tank top bahkan bertelanjang dada. Selain itu, dada yang sesak juga mengganggu. Saya kira mungkin ada penyakit yang tidak saya sadari. Diperiksa, sehat.
Ternyata, ada penjelasannya. Kata dokter, hal ini terjadi karena luapan emosi. Bosa terlalu senang, terlalu sedih, terlalu marah atau bahkan terlalu stress. Tubuh mengeluarkan hormon adrenalin yang meningkat secara tiba-tiba sehingga tubuh kaget dan tidak siap. Hal ini normal, namun bila mengganggu bisa dikonsultasikan ke psikolog. Ya mana adaaaa psikolog di ruteng ini!
Ya, terlalu. Perasaan yang 'terlalu' ini akhirnya menjadi tugas besar bagi saya. Sepertinya saya masih belum mampu untuk mengatur perasaan sendiri ketika menghadapi penolakan, apalagi penolakan secara terang-terangan. Bagi orang yang ekspresif seperti saja, menyembunyikan perasaan apalagi yang sudah 'terlalu' adalah hal yang cukup sulit. Dampaknya? Ya seperti ini. Terkadang juga diikuti oleh napas yang tersengal dan dada yang sesak. Saya pernah tidak bisa tidur selama 2 hari hanya karena mengalami luapan emosi seperti ini, dan itu benar-benar mengacaukan pekerjaan saya. Beberapa saat saya bisa menahan emosi ini namun pada akhirnya meledak juga dan hasilnya lebih parah: saya menggigil selama berhari-hari, dan tidak makan selama itu.
No, ini bukan bucin. Menurut saya demikian karena kalau saya bucin, mungkin saya sudah membuang seluruh harga diri yang saya miliki agar emosi ini terlepas dari saya. Lagipula, saya menggigil bukan hanya karena hubungan asmara semata. Banyak hal yang membuat saya mengalami hal yang sama, namun taraf kedinginannya cukup berbeda. Saya hanya ekspresif dan berharap tidak mengalami penolakan atas segala usaha yang saya lakukan. Tapi kita kan tidak bisa berharap semua orang menerima kita, bahkan orang tua yang hidup bersama kita dan orang yang memutuskan untuk hidup dengan kita. Pada beberapa titik, penolakan itu pasti ada dan tanggungjawab kita untuk mengelola perasaan kita sendiri atas apa yang kita lihat dan rasakan. Ketika sudah berusaha dan masih mengalami penolakan, saya berusaha untuk menghindarkan diri dari penolakan yang akan terjadi selanjutnya. A strong woman will just walk away if she feels unwanted, you know? Just walk away.
Hari ini, saya menggigil lagi dan tanggungjawab saya untuk mengelola perasaan sendiri. Penolakan yang saya alami kali ini cukup kuat dan dari beberapa sisi yang berbeda dengan waktu beruntun. Mau cerita ke siapa tengah malam begini?
Ruteng dingin, dan sudah cukup untuk jadi menggigil. Ditambah kondisi yang sulit diceritakan? Sepertinya akan sulit tidur malam ini... Menggigilnya gak enak.

Comments
Post a Comment