Mrs. Wardhana To Be, Day -40

Hari kedua, ketiga, dan keempat, dia masih bersama-sama dengan saya, seharian. Kami berbicara banyak hal, mulai dari kegiatan sehari-hari, mengikuti saya kemanapun mulai dari dropping bahan, menemani tamu untuk tour hingga wawancara kerja dengan salah satu organisasi besar dari India. Kami berbuka puasa bersama (saat itu sedang bulan puasa) hingga akhirnya kami kehabisan bahan. Tbh, sama-sama dia cukup menyenangkan karena akan selalu ada hal menarik, ternyata orangnya cepat akrab dan lucu. Kami habiskan hari terakhir di Mbohang, dia mengajak kesana karena saya belum pernah main kesana. Hahaha memang baru beberapa bulan disini saya langsung menyibukkan diri dengan beberapa hal agar tidak kaget. Terbiasa bekerja dengan tekanan yang harus bekerja hingga hampir psikosomatis membuat saya lupa untuk memanjakan diri memang. Dulu, berjalan-jalan adalah bagian dari pekerjaan, entah hanya mampir untuk chilling sebentar atau menemani boss yang kebetulan sedang ingin berjalan-jalan. Pembicaraannyapun tentang pekerjaan. Ya, hidup saya semembosankan itu walaupun terlihat dari luar sangat enyenangkan. But you know, behind the epic pictures, there’s a deadline report, weekly and monthly target that pushing me to working almost 24/7.

Setelah itu, kami semakin dekat. Dia mulai mengajak video call, dan ngobrol tentang banyak hal tentang rencananya di masa depan. Serius, saya masih tidak mengerti apa keinginan orang ini. Apakah dia hanya ingin mencari teman bicara, atau ada tujuan tertentu. Namun tidak begitu saya tanggapi pemikiran ini karena awalnya, saya hanya ingin bersenang-senang dan menikmati semua pembicaraan kami. Bohong ya kalau gak baper sama dia waktu itu, tapi yasudahlah, itu normal menurut saya.

Pembicaraan kami menjadi semakin dekat dan menyenangkan. Bila ada kesempatan, kami bertemu dan jalan-jalan bersama. Kami mulai dekat dan saya mulai menyadari itu namun masih menjaga perasaan saya sendiri agar tidak jatuh terlalu cepat pada orang ini. Kamu tahu, kan, kami belum cukup mengenal satu sama lain. Saya memutuskan untuk menjadikan orang ini hanya untuk tempat bercerita dan bersenang-senang saja, tidak lebih walaupun kadang perasaan ini juga mulai merasa tidak nyaman atas apa yang sudah diputuskan oleh logika saya hingga pada satu waktu, hal yang tidak disangka terjadi. His girlfriend calling! Wah panic gak? Panic gak? Panic lah masa engga.

Pacarnya menelepon dari tempat yang cukup jauh dan bercerita tentang hubungannya dengan Suryawan yang berjarak cukup jauh. Oh, ini waktunya. Sudah saatnya saya menarik diri, gak mau dong jadi perusak hubungan orang lain. Yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana caranya agar memberikan orang ini pelajaran agar tidak mengacaukan perasaan orang yang sayangi dia. Saya tidak sadar saat itu, kalau saya mulai suka sama dia. Saya menyusun rencana dengan pacarnya itu untuk mengacaukan dia dan berhasil. Entah kenapa rasanya itu kembali menyakiti saya, tidak seperti biasanya. Saya yang sebelumnya dengan mudahnya menghancurkan dan melepas begitu saja, merasa kesakitan. Kok begini ya? Gak sehat nih.. saya akhirnya memutus banyak komunikasi pribadi dengan dia, kecuali untuk hal penting menyangkut pekerjaan. Saya pikir sudah cukup nyaman dengan hal ini, namun beberapa hal masih mengganggu saya. pacarnya yang menghubungi terus menerus dan mengingatkan saya kepada dia, dia yang selalu menghubungi dengan banyak cara.

Pernah sekali dia bilang, “saya sudah beralih ke kamu. Hati saya ke kamu, Ki”, namun memang dasar si logika Kiki, masih tidak menginginkan bentuk hubungan terikat dan tidak mempercayai hatinya sendiri. Kiki melepaskan semuanya. Hahahahha

Pada satu titik, akhirnya kami berkomunikasi kembali yang membuat saya melonggar. Kami berkomunikasi seperti biasanya. Namun, saya masih memastikan hubungannya dengan pacarnya.

“Eh, gimana kamu sama dia? Apa kabar? Kami juga berkomunikasi baik”. Dia selalu membicarakan hal lain dan berkali-kali mengatakan bahwa mereka sudah putus. Okay, there’s nothing to do with me. Gak ada urusan sama sekali mau putus atau engga, toh kami gak ada hubungan apa-apa. Hingga pada satu titik saya muak pada drama (yang katanya masih) pasangan ini yang melibatkan saya, dan saya merasa bukan orang ketiga yang merusak hubungan karena saya tidak tau dia punya hubungan dengan orang lain. Saya memutuskan komunikasi dengan mereka semua, dan saat itu saya sadar bahwa saat itu, ternyata hati saya sudah jatuh kepada dia. Saya hanya tidak mau merusak hubungan orang lain dan memutuskan untuk move on dan melanjutkan semua kesibukan saya, toh tawaran pekerjaan yang datang cukup banyak sehingga saya bisa pergi kapan saja saya mau. Berat sih berat, apalagi nyadar kalo kita udah sayang itu setelah orangnya emang udah gak mungkin sama-sama dengan kita. Pada titik ini, saya cukup banyak berefleksi dan belajar tentang diri sendiri. Mulai mendekati Tuhan, merayu Tuhan agar diberikanNya hal terbaik, dan mengikhlaskan semuanya. Saya cukup banyak belajar tentang memanajemen logika dan perasaan, dan mana yang seharusnya diikuti. Hubungan PSBB (Pernah sayang tapi Belum Bersama) di masa corona ini membuat saya belajar dan makin merasa dewasa akhirnya. Hahhaha. Pelajaran banget sih ini sebenernya. Saya juga menyadari setelah ini semua terjadi, saya menjadi lebih lembut dan melunak kepada orang lain baik dalam pekerjaan dan urusan pribadi. Jadi ingat finance saya pernah bilang, “Kamu terlalu keras sama dirimu sendiri, Ki. Cobalah lebih lunak sama dirimu sendiri”. well, look at me now, Fit.

Saya memutuskan komunikasi cukup lama hingga akhirnya dia muncul entah darimana dengan versinya yang terbaru. Kami memulai komunikasi dengan versi kami yang terbaru, dan mulai melunak satu sama lain. Di awal, saya memastikan dulu hubungannya gimana, jelas gak mau terganggu label orang ketiga yang akan menjadi masalah bagi saya di kemudian hari. Kami memulai komunikasi dengan cukup hati-hati dari sebelumnya. Namun, akhirnya komunikasi ini menjadi semakin membingungkan karena kami memang tidak menginginkan hubungan seperti pacaran, atau mungkin saat itu hanya saya yang tidak menginginkannya karena dia sudah mulai menyinggung soal hubungan itu. Not that easy, tho. Saya masih cukup berkeras dengan hal ini. saya menyebut ini ‘restart’ karena kami memulai semuanya dari nol, seperti kembali berkenalan ‘in proper way’. Memakan waktu 3 bulan hingga akhirnya saya setuju untuk berpacaran, otupun setelah minta izin sama papa untuk dekat sama saya. hahahaha

Dan akhirnya proses itu berjalan sampai hari ini, saat kami persiapkan pernikahan kami. Btw, hari ini tepat 7 bulan kami berpacaran dan H-40 pernikahan kami.

Wish us luck ya, semoga pernikahannya lancar!

 


Comments

Popular Posts