Mrs. Wardhana To Be, Day -45

 Hey Ho Heyy

Mungkin agak aneh yaa, saya jarang bicarakan soal pernikahan dan akhirnya saya mempersiapkan pernikahan. Yes, it is my own wedding, dengan seseorang yang gak pernah saya sangka sebelumnya. Namanya Suryawan Wardhana. Kami bertemu setahun lalu di Ruteng dan dia adalah manusia yang membuat saya agak jungkir balik beberapa bulan terakhir: antara maju atau mundur, lanjut atau berhenti, tinggal, atau pergi. Dia juga orang yang membuat saya menulis lebih banyak, berefleksi cukup banyak tentang kehidupan hingga akhirnya buntu pada pemikiran:”okay, he is the one” and I said yes when he proposed to me.

Kalau diingat lagi, saya bahkan ngerasa lucu tentang bagaimana awalnya semesta mempertemukan kami berdua dalam keadaan yang tidak bisa disebut sebagai kondisi yang baik, namun akhirnya menjadi versi terbaik saat memutuskan untuk bersama. Jadi, saya memutuskan untuk membagikan cerita kami disini. Bagaimana semesta awalnya bermain-main dengan perasaan kami berdua, membuat kami harus melewati banyak hal dan mengorbankan sesuatu yang tidak kecil pula. Setahun berjalan mungkin menurut orang masih belum cukup untuk saling mengenal, namun seandainya mereka mengetahui dengan persis jalan cerita kami mungkin pendapat mereka akan berbeda.

Pertemuan kami diawali dari sebuah kegiatan sosial yang saya gagas setahun lalu, di awal masa pandemic corona yang mulai masuk ke Indonesia. Di salah satu wilayah yang menjadi target bantuan, Suryawan menjadi salah satu relawan yang terlibat, dan membuat video tentang kegiatan tersebut. Nah, saat saya melihat video tersebut, saya membagikannya kepada seorang kolega di Pakistan yang akhirnya tertarik untuk mempublikasikannya melalui seminar internasional yang dibawakannya. Untuk itu, saya harus mendapatkan persetujuan dari pembuat video yang membuat saya harus berkomunikasi dengan Suryawan. Disitulah pembicaraan kami dimulai…

Awal komunikasi, semuanya biasa saja, seperti seorang Kiki yang selalu berkomunikasi formal, mencari teman dan jaringan baru. Saya tidak mengenal orang ini, saya tidak tahu siapa dia, apa latar belakangnya, darimana asalnya dan apa pekerjaannya. Kami hanya mengobrol biasa hingga larut malam, hanya untuk berbicara tentang beberapa hal yang sebenarnya menurut saya tidak penting namun tetap saya lanjutkan untuk membunuh waktu, karena saat itu memang saya juga baru saja resign dari pekerjaan dan merasa cukup kesepian karena menganggur. Saat itu, membuka usaha baru masih belum cukup menyibukkan. Komunikasi kami berjalan beberapa waktu hingga akhirnya dia meminta untuk bertemu, walaupun saya sedang sibuk. Dia menawarkan untuk mengikuti semua aktivitas saya selama sehari itu. Nah, disitulah hari pertama kami bertemu.

***

Hari pertama bertemu, rasanya agak kikuk. Saya bingung harus memulai pembicaraan darimana, karena sebelumnya kami hanya berbicara tentang kegiatan amal itu. Dia meminta alamat dan berhenti didepan kantor saya. saya yang tidak terbiasa berjabat tangan dengan orang yang baru saya kenal, akhirnya berjabat tangan ketika dia sodorkan tangan dan menyebutkan namanya. Awalnya, dia cukup kalem dan mendengarkan semua pembicaraan saya, mungkin juga memperhatikan aktivitas saya dikantor. Btw, itu kantor saya sendiri dan saya CEOnya, jadi tidak apa membawa orang ke kantor.. hehe

Saya yang memang orangnya to the point dan tidak sabaran menjadi ingin tahu sebenarnya motif dia apa untuk datang dan bertemu disini. Agak aneh bila dia tidak punya agenda lainnya ke Ruteng, karena seharian dia hanya bersama saya. Jadi, skill probing mulai saya aktifkan hahahaha

Di satu kesempatan saat kami berteduh karena hujan di salah satu toko yang tutup. Kami berdiri cukup lama disitu dan dia bertanya dengan dialek sulawesinya yang kental, “Ki, adakah pujaan hatimu?”

“Gak ada. Hahaha. Kenapa emang?”

“Gak apa-apa,” jawabnya.

Saya jelasin aja, gak tertarik sama hubungan kek gitu lagi, udah males pacaran, buang-buang waktu. Dia juga sepakat, katanya pacaran itu seperti hubungan anak kecil yang akan bertengkar terus putus. Dia tidak mau punya hubungan yang akan berakhir. Kami lalu mengalihkan pembicaraan ke rencana saya yang saat itu akan pindah keluar daerah untuk beberapa saat karena ada tawaran pekerjaan, tapi akhirnya kembali lagi ke pembicaraan yang sebelumnya. Katanya kami berdua berada pada dua titik yang sama, dimana kami sudah tidak tertarik dengan hubungan sejenis pacaran.

“Kamu mau buat perjanjian sama saya, Ki?”

“Perjanjian apa?”

“Kamu akan keluar untuk bekerja dalam dua tahun, setelah itu kita rencanakan mimpi kita sama-sama,” katanya. Dalam hati, nih orang paan dah. Baru ketemu sehari udah ngajakin buat perjanjian. Perjanjianna aneh pula. Saya bilang, itumah bukan perjanjian, tapi komitmen. Katanya, dia lebih suka perjanjian daripada komitmen. Komitmen bisa dilanggar, tapi perjanjian tidak bisa. Dalam pikiran saya saat itu, muncul bayangan selembar kertas dengan materai 6000 tertempel. Uh, ngeri. Dasar Kiki yang mendewakan logika! Lagipula, bagaimana saya bisa lakukaj perjanjian dengan orang baru, terus langsung bikin perjanjian beginian…

Saya lalu bertanya, kenapa 2 tahun? Katanya waktu 2 tahun itu cukup untuk dia mempersiapkan semuanya. Lah saya makin bingung, saya pengen tau motifnya ngapain ketemu dan ngikut seharian malah jadi makin kabur. Orang ini mau ngapain dalam waktu 2 tahun? Maksud saya, dia maunya apa dari saya? (Yep, saya dulu adalah manusia transaksional yang tidak percaya pada pemberian kosong di abad ini).

“Saya hanya mau berteman, tulus.” Katanya setelah hening yang cukup lama.

Namun, setelah itu dia mulai membicarakan masa depan sebagai teman dekat yang abstrak…

Kesan pertamamu, Suryawan: kamu aneh.

 

Bersambung

Comments

Popular Posts