Titik Puas

 Satu sore yang hujan, saya duduk bersama dua orang teman dekat yang sedang mampir di kota untuk suatu urusan. Kami bercerita tentang masa lalu, masa sekarang dan rencana masa depan yang akan kami lakukan dalam waktu dekat ini. Saya, jelas akan menikah dalam waktu dekat dan akan melakukan segala hal dengan mempertimbangkan hal besar. Marriage life is a big step tho. Kamu harus mempertimbangkan orang lain yang kamu ikat dengan satu logam tipis yang melingkar di jari manisnya. 

Berpindah giliran, berbicara tentang materi. Seorang teman yang sudah cukup mapan bercerita tentang rencana hidupnya. Dia bilang, dia sudah mengalami banyak hal dalam hidupnya, hingga akhirnya dia hanya berserah kepada Tuhan, mottonya diambil dari alkitab: hidup dari kemurahan Tuhan. Saya terkesima. Dia bilang, apapun yang dikehendaki Tuhan, terjadilah. Dia yakin bahwa apapun yang dia inginkan, semesta akan membantunya untuk mendapatkan hal itu. Dia juga percaya bahwa apapun yang terjadi padanya adalah kehendak Tuhan untuk ketenangan dan ketentraman hatinya. Dalam hati, saya bertanya-tanya, bagaimana ia bisa sampai pada Titik itu: titik dimana dia sudah tidak lagi mengkhawatirkan apapun yang terjadi dalam hidupnya, karena dia yakin apapun itu, Tuhan sudah mempersiapkan hal baik walaupun itu buruk dimata manusia. Man, titik itu memang cukup tinggi, bukan berarti tidak bisa dicapai juga. kembali, semuanya butuh proses. Tidak segampang itu kita melepaskan segala keinginan dunia dan berserah kepada Tuhan dengan ego manusiawi yang terus melawan. 

Dia bilang, kita harus mencapai titik puas itu terlebih dahulu: berpuas pada dunia. Mungkin, maksudnya menemukan tujuan hidup ini, ya? entah.

Pertanyaan itu berubah menjadi bagaimana saya bisa mencapai titik puas itu?

Comments

Popular Posts