Tur Kopi di Golomory

Lama gak ngobrol soal pelajaran hidup yak. Eh, enggak deng. Beberapa tahun terakhir ini banyak kok pelajaran hidup yang saya temukan. Namun gak semua saya ceritakan disini. Biasalah, mood-moodan buat nulis kadang naik turun: tantangan menulis yang saya temukan berputar di dua hal yang sama. Pengen nulis tapi waktunya gak tepat dan saat waktunya tepat malah gak tau mau nulis apa alias wangsitnya udah hilang hahaha. 

Tapi kali ini mumpung lagi gabut waktunya lagi pas dan pengen nulis, saya pengen cerita tentang pengalaman saya bertemu dengan satu orang yang cukup hebat dan bikin saya ketar ketir karena segampang ini menyerah. Beberapa waktu lalu, saya menemani seorang teman yang kebetulan sedang punya urusan dengan para pengusaha kopi mulai dari hulu sampai hilir. Melihat peluang networking seperti biasanya, saya meminta untuk ikut dan diizinkan untuk pergi bersama sekalian melakukan mapping (keuntungan menjadi warga lokal yang minimal bisa melakukan background check haha) sekalian jalan-jalan keliling kota ruteng. Bisa dibilang jalan-jalan tematik lah, dan hari ini temanya adalah Mengenal Produk Kopi di Kotamu ehcieeehhh

Hari itu, saya dapat kesempatan untuk berkunjung ke  salah satu UMKM di sektor pertanian khusus kopi. Nah, hari ini kami berkunjung ke produsen yang berada di kawasan Mbaumuku. Masih di Ruteng, namun kalau saya tidak ke tempat ini, saya gak akan pernah tahu kalo tempat ini sebenernya adalah salah satu produsen kopi yang sering saya lihat di supermarket-supermarket di Manggarai dan Manggarai Barat. Namanya pak Herry, selama beberapa tahun terakhir ini menjalankan usaha produksi kopi mulai dari green bean, roasted bean hingga kopi bubuk dengan brand Golomory. Astaga, ini beneran gak disangka karena akhirnya bertemu. Selama ini saya hanya melihat produknya di etalase-etalase dan akhirnya dapat salah satu privilege ini: bertemu langsung dengan pemiliknya, ngobrol langsung tentang proses usahanya hingga cobain kopi-kopi grade A yang biasanya harganya mahal sekali. Saya juga diseduhkan langsung kopi dengan beberapa varian. Hari itu, resmi saya menggantikan air dengan kopi sebagai asupan. Kurang minum air, kelebihan minum kopi.

Awal pertemuan kami memang agak kaku ya, namanya juga bertemu di awal dan masih membicarakan hal yang biasa saja, hingga akhirnya pembicaraan berjalan semakin jauh dan jauh sekali yang membuat kami harus melanjutkan pembicaraan di meja makan yang membuatnya menjadi semakin akrab. First impression: orangnya talkative, namun semua hal yang dibicarakannya logis dan berbobot seperti orang yang sudah melalui sangat banyak hal dengan akses yang cukup banyak. Banyak hal yang dipikirkan, dan kelihatan tipenya adalah lifelong learner. Satu hal yang agak mengejutkan adalah beliau seorang mekanik. Banyak mesin yang sudah dirakitnya sendiri dengan pengalaman belajar yang tidak semua orang bisa tahan dengan hal tersebut. He's definitely a smart guy. Selain itu, beliau juga menunjukkan gambar-gambar mesin yang dibangunnya dan wow, teknis sekali. Beliau cukup sederhana, mengendarai Kijang kapsul, memakai kemeja dan jeans biasa. Cukup casual hingga kami berpikir apakah ini sekadar pencitraan ataukah memang orangnya sederhana dengan pencapaian yang sebesar itu. Spekulasi kami patah pada second impression saat kami pertama kali memasuki rumahnya, kami langsung dibanjiri oleh ide-ide dan pembicaraan yang membuat kami melongo. Man, orang ini bukan orang yang mengikuti trend. Dia adalah orang yang berpikir dan telah melalui banyak proses dalam hidupnya. Satu hal yang menonjol adalah dia orang yang cukup fokus. 

Pak Herry mengajak kami untuk tour singkat ke pabrik kopi, mini cafe dan rumahnya sambil menjelaskan segala hal tentang proses kopi mulai dari panen hingga menjadi kopi yang kami nikmati saat itu. Beliau juga menunjukkan mesin-mesin rakitannya, dan yang paling menarik adalah mesin Lovpresso yang merupakan alat pembuat espresso yang dirakitnya sendiri karena menganggur selama awal pandemi. Beliau menyisipkan ikon Manggarai didalamnya seperti motif Mbaru Niang (rumah adat Manggarai) dan juga motif songke dalam strainer mesinnya. Kami melongo. Saat gabut saya justru scrolling tiktok, menulis disini, mungkin. Beliau gabutnya menghasilkan mesin. Sungguh gabut yang sangat produktif. Beliau juga menjelaskan tantangan yang terjadi dan bagaimana beliau melewati proses itu dengan (saya asumsikan) cukup tenang dengan banyak pelajaran-pelajaran yang bisa diambil dari semua hal yang dibicarakannya. Beliau adalah tipe orang yang akan dikagumi karena fokusnya dalam mempelajari sesuatu, menurut saya. Contoh sederhananya, beliau bisa saja hire barista untuk mengolah kopinya, namun beliau memilih untuk mempelajari semuanya sendiri hingga paham benar seluk beluk tentang kopi, bahkan bicara tentang hal yang sangat teknis ketika mengolah kopi. Sesungguhnya pada titik itu otak saya kewalahan untuk mencerna semuanya karena saya tidak begitu memahami kopi. Beliau bener-bener gak pelit ilmu dan hal ini saya belajar bahwa segala hal itu memiliki proses dan gak mudah. Semakin kita belajar, semakin wise kita menghadapi sesuatu karena kita telah mengetahui hal itu dengan detail. Ternyata benar kata Rumi: 

"Kemarin aku menjadi pintar, aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku menjadi bijak, aku ingin mengubah diriku sendiri"

Sesederhana itu, namun tidak mudah juga untuk mencapai titik itu. Bagaimana kita menjadi lebih bijak dalam menghadapi pandangan dari luar dan terus berproses, belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik.


Saya mengenal beberapa orang yang seperti Beliau, yang sudah memiliki hampir segala hal yang diinginkan orang biasa seperti kita namun tetap bergerak dan produktif. Memiliki rumah yang sangat pas untuk menikmati masa tua, dan bersantai dibelakang rumah melihat pemandangan yang indah dan merawat tanaman. Tapi, ada satu hal yang sama pada mereka: orang-orang ini tidak berhenti berpikir dan bekerja. Mereka, bagi saya terlalu produktif hingga segala hal yang sangat detail seperti perubahan sebesar 0,01mm pada mesin akan diperhatikan. Katanya, berubah sedikit saja level presisinya bahkan hanya 0,01mm saja, mesin itu tidak akan bekerja. Why, God? Why? Otak saya tidak habis pikir, dan mungkin otak saya terlalu malas untuk hal itu dan berakibat saya tidak memiliki apapun di usia 25 tahun ini. Yah, saya pernah membela otak saya yang malas ini dengan "kan mereka punya privilege, ada kesempatan untuk belajar" namun hati saya langsung menentang dengan bilang "try to think like them. Visualize yourself like them. Learn their strategy. Kamu kalah disitu, Ki. Jangan pakai alasan basi untuk membela kemalasanmu itu" yang akhirnya mempermalukan diri saya sendiri dalam pikiran saya. Seperti istilah seseorang: hancur dalam pikiran

Hari itu, saya membawa pulang kopi varian baru yang belum diluncurkan, semangat baru, malu pada diri sendiri dan pelajaran hidup yang berarti. Dalam hati dan pikiran, saya menamai pak Herry sebagai Mekanik yang bijak. 






 


Comments

Popular Posts