Jenuh

Semakin lama menjalani satu hubungan, seseorang pasti walaupun sekali mengalami masa jenuh dalam hidupnya. Entah karena jarak, gerah dengan pembicaraan yang sama setiap waktunya, atau mungkin hubungan yang hanya berjalan di tempat karena keadaan yang memaksa. Rasa jenuh itu seluruhnya adalah kewajaran yang pasti, karena sebagai manusia kita pasti menginginkan sesuatu yang baru, mungkin untuk pribadi sendiri atau untuk hubungan tersebut. Mungkin, ingin mundur selangkah atau maju selangkah.

Paling parah, jika kejenuhan itu dipicu oleh kombinasi antara ketiganya: jarak, pembicaraan yang monoton dan hubungan yang berjalan ditempat. Ini bisa menjadi masalah yang cukup rumit karena keduanya akan kalah dengan jarak yang mendukung kedua sumber masalah lainnya. 

Pembicaraan yang semakin tidak nyambung antara satu dengan yang lainnya, hingga masuk pada tahap hampa. Hampa karena merasa pembicaraan yang dilakukan tidak 'mengisi kekosongan'. Ketika kekosongan ini tidak terisi, konsekuensinya bisa jadi perasaan yang tergerus untuk mengisi kekosongan itu. Hingga pada akhirnya, kosong seluruhnya. Semua hanya menjadi judul bagi orang tersebut. Hubungan hanya judul untuk menandai bahwa 'saya memiliki seseorang' yang (dahulu) saya sayangi dan saya tidak bisa memiliki hubungan yang sama dengan orang lainnya karena saya terikat dengan dia. Pertanyaan-pertanyaan yang semula bentuk perhatian dan perasaan, hanya sekadar basa-basi sederhana untuk berkabar yang sesungguhnya sudah tidak perlu lagi. Orang-orang itu akan mencari sesuatu yang baru, entah menenggelamkan diri dengan suatu kesenangan baru sendirian atau mencari kesenangan dengan orang lain. Sialnya, kejenuhan belum tentu membuat seseorang berpaling dari hubungan lamanya, walaupun kemungkinan itu bisa saja terjadi. Bermain aman, mungkin istilahnya; seperti yang sering saya dengarkan dari orang-orang yang sedang berada dalam fase jenuh ini.

Sifat sial rasa jenuh ini kadang membuat seseorang sedikit brengsek. Mencari kesenangan dengan orang lain demi kesenangannya sendiri, menjadikan orang lain hanya mainan dan selingan untuk menghilangkan rasa jenuh dalam hubungannya sendiri. Setelah jenuhnya hilang atau mulai bosan, seseorang dapat mundur teratur atau menghilang begitu saja seperti setan. Meninggalkan begitu saja sesuatu yang ia nikmati sendiri dan jejak luka ketika ia mencari kesenangan dengan orang lain; dia bisa mundur teratur atau menghilang seperti setan.

Jenuh, walaupun manusiawi, merupakan salah satu resiko tinggi untuk merusak suatu hubungan. Bisa saja suatu hubungan berlanjut baik-baik saja, berakhir baik-baik saja atau mungkin berlanjut dengan masalah, berakhir dengan luka dan sakit hati yang ditambah bumbu penyesalan.

Sekarang, kembali lagi kepada orang tersebut, mau memilih jalan jenuh yang mana? Mau bertahan dengan hubungan yang menjenuhkan dan jalan ditempat, atau berjuang melawan jenuh, melangkah ke level selanjutnya dan menang seutuhnya?

Comments

Popular Posts