Waktu Menurut Tuhan
Banyak hal yang berubah selama 3 minggu menyandang status baru sebagai istri. Saya yang biasanya menjadi perempuan pemalas dirumah: bangun jam berapa saja tergantung appointment diluar dan pulang ke rumah saat larut lalu langsung masuk ke kamar untuk tidur di keesokan harinya, tiba-tiba berubah menjadi ibu rumah tangga yang harus bangun pagi menyiapkan segala kebutuhan suami untuk ke kantor. Menyiapkan sarapannya, pakaiannya ke kantor dan mengantarnya berangkat kerja. Setelah itu, saya harus membereskan pekerjaan rumah yang sebelumnya sangat jarang saya kerjakan: mencuci, bersih-bersih dan beberapa pekerjaan lain yang membuat waktu bermain saya menjadi sangat sedikit.
Saya cukup shock dengan perubahan yang tiba-tiba ini. Saya harus banting stir dari perempuan alpha yang menentukan segala hal sendiri dan harus melakukan segala hal setelah mendapatkan izin dari suami. Saya terkaget dengan kehidupan pernikahan yang sama sekali tidak saya alami sebelumnya. Yep memang benar ada rencana-rencana setelah menikah, namun itu bukanlah soal perasaan yang tidak bias diprediksi. Bukan perasaan shock dan emosi tidak stabil yang saya alami saat ini. Semua rencana itu lebih kepada perencanaan finansial dan apa saja yang akan kami lakukan pasca menikah. Kaget? Pasti. Memulai dari nol dan harus melepaskan segala kesenangan yang saya miliki sebelumnya untuk hal yang saya pilih untuk sisa hidup saya. Pernah dalam satu malam, saya menangis tersedu-sedu. Pernah juga menangis karena hal sepele hingga suami saya kebingungan harus melakukan apa. Dia bingung karena tidak biasanya saya demikian.
Beberapa saat lalu, saya dihubungi seorang sahabat dekat yang masih lajang. Dia menceritakan tentang jalan-jalannya beberapa saat lalu. Kawan lainnya bertanya kapan saya kesana, kesini yang biasanya langsung saya buatkan jadwalnya dalam waktu sekejap. Dia tahu, semasa lajang saya bisa diajak kemana saja dan pergi kapan saja sesuka hati. Saya hanya bisa menjawab ‘hey, ingat? Saya sudah menikah. Saya sudah tidak bisa loncat sana sini sesuka hati seperti sebelumnya’. Agak getir memang, namun itulah kenyataannya. Mungkin karena belum terbiasa dengan kondisi yang baru, saya agak iri dengan mereka. Mereka masih bisa berjalan-jalan kemanapun, kumpul dimanapun dan dengan siapapun; melakukan apapun. Bisa dibilang, saya merindukan kebebasan saya sebelumnya namun bukan berarti saya menyesali keputusan saya hari ini untuk hidup dan menetap bersama seseorang.
Yep, saya tidak menyesal dengan keputusan saya yang mungkin terlalu cepat atau mungkin tepat ini. Bukankah ada hal yang harus kita lepaskan agar tangan kita lebih lapang untuk menerima sesuatu yang lebih besar dan lebih baik? Mungkin saja kesenangan mereka saat ini adalah ‘waktu’ mereka, sedang milik saya selesai lebih cepat. Bisa saja pernikahan saya tepat waktunya karena menurut Tuhan, saya sudah siap maka rejeki ini diberikan terlebih dahulu kepada saya. Ingat, ini perihal waktu menurut Tuhan, bukan waktu menurut manusia.
Saya yakin Tuhan memberikan saya kesempatan ini karena menurut Dia, saya sudah cukup siap. Dalam Al-quran Tuhan sudah bilang bahwa Dia tidak akan memberikan ujian melebihi kemampuan umatNya, kan? Maka saya siap untuk itu. Mungkin saja Tuhan ingin saya lebih dekat dengan Dia melalui apa yang Dia izinkan terjadi kepada saya karena Dia merasa saya kurang dekat ketika masih lajang. Mungkin saja. Sayapun tidak bisa menjawab dengan pasti. Namun yang pasti, saya bahagia walaupun masih membutuhkan penyesuaian disana sini. Saya percaya bahwa ini adalah proses bagi saya dan suami untuk bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Saya percaya bahwa semua ada waktunya, dan inilah waktu saya. Waktu saya menurut Tuhan berbeda dengan waktu orang lain menurut siapapun yang mereka gantungkan harapannya. Yang perlu saya lakukan adalah menerima, dan menyesuaikan.
Dan, oh, saya akhirnya punya waktu untuk menjalankan hobby baru yang selama ini tidak sempat saya lakukan: berkebun! saya punya beberapa tanaman yang akhirnya bisa saya rawat sendiri. Ternyata settling down bukan hal yang buruk juga. Tuhan memang rapi sekali ya menyiapkan segala sesuatunya sesuai dengan keinginan dan waktu kesiapan kita. "Sang Pengawas Ujian Hidup" bisa jadi salah satu julukan yang menarik bagi Tuhan karena Dia bisa menentukan siapa yang siap, siapa yang belum dan siapa yang sama sekali tidak siap.

Comments
Post a Comment