Batu Sandungan VS Batu Loncatan
Saat duduk memandangi tanaman di kebun kecil yang kami bangun setelah menikah, ingatan saya melayang pada pengalaman beberapa waktu yang lalu, ketika saya iseng mengikuti wawancara kerja di salah satu lembaga. Lembaga ini cukup baik, cukup kredibel dan bisa dikembangkan menurut saya dan saya cukup berambisi untuk berpartisipasi didalamnya. Saya lolos hingga tahap seleksi wawancara dan saya kira, saya akan melakukannya dengan cukup baik hingga pada satu momen, pertanyaan yang tidak diduga muncul: “apakah kamu akan menjadikan lembaga ini sebagai batu loncatanmu?” saya tercekat. Sesaat saya speechless karena tidak tahu harus menjawab apa. Hati dan pikiran saya saat itu bercampur aduk karena dalam hati, saya menjawab ya, tapi pikiran saya melarang untuk mengeluarkan jawaban itu karena jelas mereka akan menolak saya. Mereka mencari karyawan yang setia, bukan karyawan yang mau berkembang.
Saat itu, saya belum cukup berani untuk jujur dengan kata hati saya sendiri, lalu saya menjawab bahwa ini bukanlah batu loncatan dalam karier saya. Mereka tersenyum. Sepulang dari sana, perasaan saya bergejolak sendiri, menyesali apa yang sudah keluar dari mulut saya. Tentu ini adalah batu loncatan dalam karier saya: saya perlu belajar dan berkembang, dan ketika ada kesempatan yang lebih baik, kenapa tidak berpindah apalagi jika berkembang dengan karier bagus dari tempat itu? Bukankah itu akan membawa portofolio yang bagus bagi mereka bahwa mereka mencetak karyawan yang mumpuni, bahwa mereka mendidik karyawan dengan baik sehingga jebolan dari sana adalah karyawan yang berkualitas?
Kembali lagi, ini bukan lembaga amal, melainkan mencari pekerjaan. They don’t care how talented you are, they just need your time and your effort for the job they choose for you. Tiba-tiba, dalam pikiran ini muncul antonym batu loncatan: batu sandungan. Bila mereka tidak bersedia menjadi batu loncatan, maka mereka menjadi batu sandungan. Mungkin teori hitam putih yang saya gunakan saat ini, namun bagi saya hal itu tidak sepenuhnya salah. Batu loncatan adalah benda yang kita gunakan untuk pergi lebih tinggi, sedang batu sandungan membuat kita terjatuh dengan kemungkinan akan bangkit lagi, namun belum tentu akan pergi lebih tinggi. Saya tersentak sendiri. Oh, jadi ini maksudnya kenapa orang yang masuk ke dalam system akan tertahan dan hanya sedikit yang bisa lolos dari itu? Bagaimana mereka pada akhirnya mengabaikan talenta mereka yang ditukar dengan kenyamanan hingga masa tua mereka? Ah, tapi itu kan pilihan. Entahlah. Itu soal pilihan, apakah akan hidup dalam batu sandungan ataukah batu loncatan. Apakah bersedia untuk menjadi batu loncatan bagi yang lain (tentunya dengan perasaan yang lapang dada dan murni untuk membangun manusia) ataukah menjadi batu sandungan agar semua orang nyaman ditempatnya. Ah, saya sudah mulai ngalor ngidul.
Anyway, pada akhirnya saya tetap tidak memilih untuk bekerja ditempat itu walaupun saya lolos dan diterima sebagai karyawan. Saya memilih untuk bekerja diluar system dan menikmati masa muda saya sebagai seorang istri yang mungkin akan menerima beberapa pekerjaan lepas setelah mendapatkan izin suami sambil menggarap beberapa project pribadi sesuka saya.

Comments
Post a Comment