2 Bulan
yep, sebenernya tanggal 31 udah tepat 2 bulan, namun karena oktober gak ada tanggal 31 dan kemarin saya mock test (saya jadi awardee ELTA XII kali ini, yang akan saya ceritakan di thread yang lain) maka jadilah sesi curhatnya dipindah ke hari ini. Hahaha
Jadi, selama 2 bulan kami menikah ternyata belum cukup waktu untuk mengenal dia sepenuhnya. Akan selalu ada hal baru setiap harinya yang membuat saya terkejut, bahkan membuat saya kesulitan untuk bereaksi; seperti apa saya harus menghadapi kondisi ini. Kami sama-sama baru pertama kali menikah dan sama sekali tidak punya pengalaman- kami hanya memiliki teori-teori yang seperti masa sekolah dulu: seringkali teori berbeda dengan praktik. Terlalu banyak hal baru yang kadang membuat saya overwhelming. Rutinitas-rutinitas baru, penyesuaian, manajemen konflik dan seringkali membuat saya belajar tentang keadaan. Beberapa hari terakhir, saya berefleksi. Ya, saya menjadi sedikit lebih bijak dalam menghadapi masalah. ceileh hahaha. Kami sudah beberapa kali bertengkar, beberapa kali lari dari keadaan dengan cara masing-masing, beberapa kali menangis dan kembali baik-baik saja. Kami saling mempelajari dan berusaha untuk memperbaiki kondisi satu sama lain, menyadari bahwa ini adalah konsekuensi dari pilihan kami berdua untuk menikah. Artinya, apapun itu kami harus belajar untuk saling menerima- dan memperbaiki.
Namun, ada juga hal yang kami bawa dalam pribadi kami masing-masing. Ada juga hal yang kami pilih untuk disimpan sendiri-atau mungkin hanya saya yang seperti itu. Ada beberapa hal yang akhirnya saya bawa sendiri, yang saya pilih untuk tidak diceritakan. Kondisi overwhelming yang saya alami kadang kala membuat saya cukup malas untuk berbicara, yang malah membuat saya overthinking. Kamu tahu, kan, orang overthinking sudah merancang banyak sekali skenario dalam pikirannya dan apapun yang terjadi hanya akan membuktikan bahwa salah satu teorinya terbukti dan tidak ada yang bisa dia lakukan tentang itu; dia sudah siap menerima semuanya.
Salah satu hal yang membuat saya cukup terganggu adalah satu kalimat yang saya baca ketika belum menikah, "home is a feeling, not a place". Kamu tahu, setelah menikah bukan berarti kita akan melepaskan semuanya begitu saja. Melupakan semua yang kita ingat begitu saja karena itulah yang membentuk siapa kita pada hari ini. Dengan perubahan yang begitu drastis 5 menit setelah ijab kabul, saya menjadi seorang istri dan banyak hal yang harus saya sesuaikan, termasuk kebebasan saya yang serampangan. Saya yang dahulu mau pergi kemanapun, mau melakukan apapun tanpa izin dan beban memikirkan orang lain, harus mempertimbangkan segalanya karena sudah ada satu orang yang melekat dengan saya hingga saya mati. Saya sudah tidak bisa pergi begitu saja, mengamankan perasaan saya sendiri karena ada perasaan lain yang harus saya amankan juga. Kembali, semua ini adalah konsekuensi. Saya memilih untuk menikah dan apapun yang terjadi setelah itu maka terjadilah. Ternyata tidak mudah karena selain harus menciptakan suasana rumah bagi pasangan, saya juga harus menciptakan 'perasaan rumah' itu bagi diri saya sendiri, di tempat yang asing bagi saya. Rumah milik orang asing yang saya nikahi, tiba-tiba menjadi rumah saya dan tempat saya bertumbuh tiba-tiba bukan lagi menjadi rumah walaupun perasaan itu masih berada di rumah tempat saya bertumbuh. Jujur saja, saya masih belum tahu caranya untuk memindahkan perasaan itu ke 'rumah yang baru' - mungkin membutuhkan waktu lama dan dukungan yang intensif. hehe,
Pernah sekali, saya berpikir bahwa pernikahan adalah jebakan. Jebakan agar saya tidak sebebas saat saya melajang. Setelah saya flashback kembali, pikiran ini muncul karena saya pernah membicarakan hal ini dengan seorang kolega. Oh, ini dia salah satu pembicaraan yang akhirnya mengganggu ketenangan pernikahan saya. Tentu saja harus saya buang, kan? Pernikahan adalah bobby trap, penjara, dan sebagainya. Saya sudah membuangnya jauh-jauh dan berusaha menjadi baik-baik saja. Ingatan yang cukup mendetail terkadang menguras perasaan, pikiran dan tenaga walau seringkali membantu. Namun saya percaya bahwa tangan Tuhan tidak pernah terlepas dari saya, dan saya tidak perlu khawatir tentang segala hal yang terjadi karena mungkin menurut Tuhan, saya bisa dan akan baik-baik saja dengan kondisi ini. Bila ini ujian, alhamdulillah. Bila ini kondisi, alhamdulillah. Semua ada maksudnya, kan?
Kami berdua akan melewati ini semua dengan baik-baik saja, dan semuanya membutuhkan waktu untuk dicerna, dipahami. Kami berdua akan melewati tantangan ini dengan baik-baik saja. Kami belajar, dan kami belajar.

Comments
Post a Comment