ELTA NTT XXI
Jadi, saya pernah bilang mau cerita soal ELTA kan? iya, saya akhirnya jadi awardee ELTA setelah 2 tahun berturut-turut mendaftar dan ditolak. Tahun ketiga ini, saya mendaftar kembali walaupun tidak begitu berniat untuk mendaftar lagi di tahun depan bila kali ini saya tidak lolos. Saya pikir, bila sudah tiga kali ditolak, maka sebaiknya mencari peruntungan ditempat lain- mungkin disini bukan jalan saya. Toh saya mau menikah dan nantinya juga akan disibukkan dengan hal lainnya seputar kehidupan rumah tangga, mungkin bekerja ditempat lain. Namun, takdir menyebutlan hal lain: kesibukan pertama saya dalam kehidupan pernikahan yang sesungguhnya adalah harus mempersiapkan diri dari jam 8 pagi hingga jam 3 sore (pada jadwal tertentu sampai jam 5 sore) menghadiri kelas bahasa inggris secara intensif dengan setumpuk tugas yang bahkan saya sendiri kewalahan. Tuhan memberikan saya kesempatan untuk belajar lagi dan memberikan buah atas konsistensi saya melamar. Mungkin pihak seleksi juga sudah tidak ingin menerima berkas lamaran saya di tahun depan makanya mereka memberikan saya kesempatan. haha.
ELTA adalah kepanjangan dari English Language Training Assistant, yang dilaksanakan oleh IALF Indonesia dan disponsori oleh Australia Awards Indonesia. Saya adalah salah satu awardee yang masuk dalam batch XII, training kedua yang menggunakan metode kelas online karena selama pandemi, kelas tatap muka tidak diperbolehkan. Saya masuk ke kelas ini sejak awal september dan akan berakhir di akhir november nanti, plus ujian sertifikasi IELTS dua minggu pasca kursus selesai. Motivasi saya untuk ikut kelas ini? tentu saja karena biaya sertifikasi IELTS yang cukup mahal. Pernah sekali saya kalkulasi, biaya untuk kursus ke IALF Bali saja (IALF hanya ada 3 di Indonesia: Jakarta, Surabaya dan Bali) termasuk biaya hidup bisa menghabiskan uang belasan juta. Saat itu, bahkan ketika seluruh tabungan saya digabungkan pun masih belum mencapai setengah dari kebutuhan saya. Alhasil, tidak ada jalan lain selain berusaha mencocokkan standar dengan yang ELTA inginkan dan akhirnya tembus! Saya bisa belajar dan mengikuti ujian dengan biaya beasiswa.
Menjadi salah satu awardee ternyata gampang-gampang susah dengan kondisi personal saya. Saya cukup shock dengan tugas yang bejibun dan harus diselesaikan dengan segera, self study, ditambah lagi banyak hal yang harus diimprovisasi agar ada kemajuan setiap harinya. Saya harus menyesuaikan kehidupan sebagai istri yang punya tugas dirumah dan juga sebagai siswa yang harus memenuhi semua kewajiban demi hasil yang maksimal dan sesuai keinginan saya. Setiap bulannya, kami harus melakukan mock test: ini seperti simulasi ujian IELTS berbasis komputer agar kami terbiasa dengan situasi ujian. Dan sebulan telah terlewati, mock test pertama sudah keluar. Hasilnya? belum memuaskan. Bagi saya. Dalam kelas, memang benar saya mendapatkan nilai diatas target, namun entah kenapa senangnya hanya sebentar saja karena saya teringat kembali pada target pribadi yang jaraknya sangat jauh dari nilai yang saya dapatkan. Saya kecewa pada diri sendiri, sementara teman-teman di kelas memberikan selamat atas pencapaian yang saya dapatkan. Saya bingung harus merespon seperti apa karena ini bukan ekspektasi saya, dan saya memang punya masalah pribadi dalam merespon komplimen atau ucapan selamat. Lebih mudah bagi saya untuk mengucapkan maaf daripada terima kasih, walaupun sekarang saya sedang mempelajarinya: saya belajar berterima kasih kepada kondisi, pada tanaman-tanaman yang saya rawat belakangan ini serta suami saya. Saya sadar bahwa saya harus banyak berterima kasih, namun masih kesulitan untuk berterima kasih kepada diri sendiri.
Back to the topic, ya, saya mendapatkan nilai diatas target rata-rata untuk mock test. Teman-teman menyelamati saya, dan saya merasa harus berlaku baik kepada mereka dengan merespon semua ucapan selamat mereka, namun sesungguhnya hal itu mengganggu mental saya secara pribadi. Di hari itu, saya mencoba agar tetap tenang supaya bisa melalui kelas esok hari dengan tenang. Namun sial, seorang teman kembali menyelamati saya dan itu sangat merusak mood saya. Saya menjadi tidak dapat berkonsentrasi dan harus meminta maaf kepada trainer atas sikap saya yang terkesan tidak begitu peduli kepada pelajaran yang sangat saya sukai itu. Ditambah lagi, sesi itu adalah sesi yang diisi oleh advisor saya. Mungkin ini hal baik karena kami punya kedekatan sebagai advisor dan advisee, namun tetap saja saya merasa tidak nyaman. Vibe kelas yang negatif karena hasil mock test yang rendah berefek kepada saya dan akhirnya saya tidak menikmati sepanjang hari itu. Saat istirahat makan siang, akhirnya saya berbicara dengan suami tentang perasaan saya dan merasa sedikit lega, namun tidak sepenuhnya hingga akhirnya saya memperoleh kesempatan untuk berbicara langsung dengan advisor daya dan menceritakan semua yang terjadi, plus meminta maaf yang akhirnya membuat saya membaik dan belajar banyak dari apa yang kami bicarakan sore itu. Beberapa hari kemudian, koordinator program menghubungi saya untuk membicarakan apa yang terjadi, dan ada satu hal yang hingga detik ini saya ingat:
Ini membuat saya tertohok. Saya berbicara terlalu banyak, meragukan maksud banyak orang hingga membuat mood saya menjadi buruk dan menjadi siswa yang tidak maksimal. Bagaimana bisa manusia dengan mental seperti saya dapat mencapai ekspektasi saya untuk band score yang lebih tinggi? ah, Ki, kamu termakan dan hampir terbunuh oleh pikiranmu sendiri. Sebenarnya kamu baik-baik saja, dan kamu seharusnya baik-baik saja dengan kondisi ini. Bagaimana bisa kamu menjadi orang yang paham dengan nilaimu sendiri sedang kamu meragukan kemampuanmu dengan menolak apa yang sudah kamu capai? waktunya berubah, Ki.. Waktunya berubah dan menjadi lebih baik. Kamu perlu mencintai diri sendiri dan belajar berterima kasih kepada tubuh dan pikiranmu sendiri. Tanpa mereka, kamu tidak akan sekuat ini, tidak akan berada pada titik ini. Tuhan menciptakan kamu dengan maksud. Tuhan tidak pernah merancang nasib buruk bagi hambaNya. Kamu tidak perlu sekeras itu pada dirimu sendiri, Ki.. Sudah saatnya menerima segala hal yang bukan berada dalam kontrolmu, mengakui potensimu dan berterima kasih kepada apapun yang terjadi, berterima kasih kepada tubuhmu karena kuat dan akalmu yang masih menjaga kewarasannya ditengah kegilaan yang terjadi. Apresiasi dirimu sendiri, Ki.
Dalam salah satu sesi healing yang dilakukan oleh ELTA, saya belajar bahwa Tuhan tidak menciptakan kita dengan iseng, tidak juga memanjakan kita. Tuhan menciptakan semua masalah namun juga menciptakan solusi. Masalah ini, sudah ada solusinya. Dan saya perlu bantuan, yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang saya kenal di ELTA. Seringkali, kita perlu melihat tangan-tangan Tuhan yang membantu kita menyelesaikan masalah kita melalui orang yang ada di sekitar kita. Hanya, kita juga seringkali terlalu tinggi hati untuk menerima bantuan tersebut. Mungkin itu hal yang membuat saya kesulitan hingga beberapa hari yang lalu hingga akhirnya saya membuka diri kepada suami, advisor dan koordinator program saya. Ya, saya merasa lebih baik dan akan lebih baik kedepannya. Mereka adalah tangan-tangan Tuhan yang mencoba membentu saya dalam kondisi sulit dimana sebelumnya tidak ada seorangpun yang mau mendengarkan cerita saya ini.

Comments
Post a Comment