8 bulan
8 bulan sudah.
8 bulan yang lalu, saya mengambil keputusan yang benar-benar mengubah kehidupan saya (hampir) sepenuhnya. Keputusan yang saya pikir adalah tepat saat itu, dan masih saya pertahankan hingga detik ini. Hal yang tidak pernah saya bayangkan akan terjadi kepada saya secepat ini; yang saya pikir akan terjadi nanti, atau mungkin tidak akan terjadi kepada saya sama sekali, mengingat apa yang sudah saya alami sebelum-sebelumnya. Dan inilah saya, hari ini. Kembali mempertanyakan diri saya sendiri, mempertanyakan dimana saya berdiri saat ini.
Hari yang mulai berjalan sejak saat itu, bukan selalu indah, jelas dan terang sekali, pasti ada dukanya, ada marah dan kecewanya. Namun, bukankah itu normal? Inilah kehidupan, katanya. Kita hanya perlu melewatinya. Namun, pernahkah terpikirkan ketika semua perasaan itu juga diikuti oleh bayangan tentang masa lalu-baik yang bahagia, sedih, maupun menyakitkan?
Yah, kita bisa mengenal dalam seminggu, sehari bahkan hanya satu jam. Namun, butuh waktu yang lama, bahkan mungkin tidak akan pernah bisa melupakan. Entahlah, saya berada dalam tahapan yang mana: apakah sulit, atau mungkin tidak bisa melupakan. Semua itu tentu, ada pemicunya. Seperti kita yang teringat akan kenangan khusus ketika mencium aroma petrikor, beberapa hal membuat saya teringat akan sesuatu, yang sayangnya adalah kenangan yang buruk untuk diingat. Bukan tidak pernah mencoba untuk melepaskan dan berdamai dengan diri sendiri. Saya menilai, langkah yang saya ambil hingga detik ini adalah usaha saya untuk bernegosiasi dengan diri sendiri, meminimalisir rasa bersalah pada diri dan memilih untuk melanjutkan hidup dengan sesuatu yang saya kira akan baik-baik saja. Hari ini, saya bahkan ragu bahwa saya sedang baik-baik saja.
Dalam delapan bulan terakhir, saya berusaha mencari jawaban dan pembenaran atas diri sendiri, dan langkah yang telah sejauh ini. Ya, saya menemukannya. Saya menemukan pembenaran itu, mendapatkan kekuatan darinya. Akan tetapi, memang dasar manusia tak pernah puas walau telah mencapai klimaksnya. Selalu ingin lebih tinggi, selalu ingin presentase sempurna, tanpa cela. Mungkin, saya kalah dalam ego saya ini sehingga menjadi tidak tenang: sedikit saja terpicu, akan merusak semua pembenaran yang ada. Curiga, marah, ketakutan, bersalah. Bahkan validasi yang saya dapatkan pun tidak berhasil menenangkan sama sekali, walau saya tahu dengan jelas, ini perasaan saya sendiri.
Saya sangat sadar, bahwa kita tidak akan pernah mengubah masa lalu, dan masa lalu itu juga yang membentuk siapa kita di hari ini. Yang perlu saya lakukan hanya berusaha lebih keras untuk berdamai dengan diri ini di masa lalu, dan kembali pada pendirian yang sama: inilah saya pada hari ini, dan seluruh keputusan yang saya ambil di masa lalu adalah benar adanya. Ini jalan yang saya pilih, dan saya yang harus bernegosiasi dengan diri ini untuk menerima bahwa segala sesuatu tidak harus mencapai klimaksnya. Pembenaran dan validasi yang cukup saja, sudah cukup. Tidak perlu semesta berpihak pada kita-toh setiap saat dia mempermainkan kita.
Ah, mungkin saya hanya butuh ruang.

Comments
Post a Comment