Catatan Ramadhan, hari 1: suicidal thoughts
Berbicara tentang kematian, saya percaya bahwa semua orang akan mengalaminya-cepat atau lambat. Mungkin tidak semua orang memikirkan kematiandengan serius, hanya sebagai bahan overthinking di pukul 2 pagi. Barangkali, ada beberapa orang yang menindaklanjuti dengan sangat serius: sebuah langkah yang membutuhkan dorongan yang sangat kuat.
Bagi saya, bicara kematian adalah pembahasan di level berbeda dalam setiap pembicaraan yang tidak semua orang bisa lakukan. Saya bertemu banyak orang yang berbicara kematian mulai dari sekadar bertanya tentang bagaimana rasanya kematian, orang yang ingin mengalami kematian namun memiliki dorongan yang belum cukup kuat untuk membawanya pada kenyataan, mereka yang sedang mempersiapkan kematiannya karena sakit yang tidak terobati dan orang yang sudah merencanakan kematiannya: bagaimana caranya untuk membunuh diri sendiri dan ingin mati seperti apa. Ini bukan film, saya benar-benar bertemu dan berbicara dengan mereka. Kami berbicara banyak hal tentang kematian, dan dorongan apa yang membuat pikiran tentang kematian itu muncul dalam benak. Banyak hal yang sudah mereka lewati dalam masa hidup mereka selama bertahun hidup di atas tanah: kelelahan, tertekan, rasa sakit psikologis hingga berdampak pada respon tubuh, depresi, tidak bisa lagi menambal lubang yang sudah terlalu dalam di dada. Saya menyebutnya krisis, dimana orang memutuskan untuk fight, atau flight. Melawan keinginan untuk mati, atau akhirnya memutuskan untuk hidup dibawah tanah. Semua pembicaraan ini membuat saya berefleksi, apakah saya pernah berpikir tentang kematian, atau mungkin mendorong saya untuk menghadapi kematian itu sendiri.
Selama 26 tahun hidup di dunia, sayapun juga mengalami banyak hal. Luka masa kecil yang belum sembuh dan membentuk kepribadian, perasaan haus yang belum hilang, ambisi yang tak pernah selesai, karier yang hancur di masa keemasan, penyesalan-penyesalan yang tidak akan pernah diperbaiki di masa lalu, bermasalah dengan rasa percaya dan pergolakan batin yang tidak kunjung selesai. Semua ini saya lewati dengan pikiran yang kacau balau sendirian, dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menata perasaan sendiri, dan bangkit lagi dengan rasa percaya diri. Butuh waktu 2 tahun hingga akhirnya saya mampu merasa bersinar kembali, dengan luka-luka masa lalu yang mengeringdengan susah payah. Ketika akhirnya mulai merasa cukup sembuh, saya dihadapkan pada satu hal yang membuat mulut berani untuk menyuarakan pikiran itu: ingin bunuh diri. Ya, saat itu saya merasa bahwa menyembuh tidak ada gunanya lagi karena bagaimanapun, luka baru akan muncul. Saat itu, saya menertawakan diri sendiri karena hal berat yang menghancurkan saya bisa saya lewati, namun ketika saya merasa diteror oleh mantan pacar pasangan saya saat itu (sekarang suami) saya malah mau bunuh diri. Bukan karena budak cinta, pikiran ini adalah akumulasi dari semuanya: luka yang butuh waktu cukup lama untuk menyembuh masih sakit, masalah saat itu yang belum bisa dibereskan terkait pekerjaan yang membuat saya tertekan, ditambah dengan perasaan panik dan takut karena merasa diteror tiap saat. Saat itu, saya merasa lemah dan tubuh saya merespon: selalu merasa dingin, kesulitan fokus, berat badan turun drastis ditambah bayangan-bayangan tentang skenario bunuh diri terus mengikuti. Pikiran ini terus saya simpan sendiri sembari mencari pembenaran: mencari alasan untuk tidak mati. Banyak hal yang saya lakukan saat itu, memaksa diri untuk mendekat dan menikmati sakit itu, berkonsultasi dengan psikolog dan bercerita dengan manusia anonim yang saya beri nama Lim: perlahan mengurai benang-benang kusut dalam pikiran dan mencari akar busuk untuk dipotong agar tidak membunuh jiwa; hingga pada satu titik saya memutuskan untuk tidak mati.
Apakah saya pernah berpikir tentang kematian? Ya. Namun, dorongan untuk mewujudkannya pada diri saya perlahan memudar, beralih dari mematikan diri sendiri kepada mati secara natural. Masih banyak hal yang ingin saya lakukan di atas tanah. Saya bersyukur, dorongan untuk membunuh diri sendiri masih cukup lemah hingga mampu diredam hingga saya bisa melewati ramadhan tahun ini, walau masih bertanya-tanya apakah memilih hidup dekat dengan pemicu trauma saya adalah keputusan yang tepat. Perlahan tapi pasti, saya akan menyembuh dan menerima luka baru. Bukankah akan selalu ada hal lebih sakit yang akan menggantikan kesakitan-kesakitan sebelumnya? :)

Comments
Post a Comment