Marennu, Kadang ibu merindukan masa-masa sebelum ada kamu. Ibu bisa pergi dan melakukan apapun tanpa harus khawatir. Ibu tidak harus makan tepat waktu, minum suplemen setiap hari dan berusaha untuk tidur cukup untuk mendukungmu didalam kandungan. Berusaha untuk melepaskan kebiasaan lama dan memulai hal baru yang tidak pernah terpikir akan ibu lakukan sebelumnya. Melihat story media sosial teman-teman yang sedang travelling, menonton konser, sedang ibu harus tinggal dirumah dan berusaha untuk tidur lebih awal kadang menyebalkan dan menyakitkan. Bukan, bukan ibu tidak bahagia punya kamu; ini hanya terasa sedikit asing. Marennu, Serelah menikah, rasanya ibu seperti kehilangan diri ibu yang dulu. Ibu menjadi manusia berbeda yang, di'reset' setelah menikah, dan hamil. Semua pencapaian ibu menjadi tidak ada artinya dan ibu harus mulai membangun karier dari nol lagi. Semua ini terasa begitu banyak, dan tidak ada tempat bagi ibu untuk menceritakan semuanya. Ini membuat ibu stres dan sering berpikir yang tidak-tidak. Kadang, ibu menangis sejadi-jadinya. Kadang, ibu menertawakan keadaan seperti orang yang sudah pasrah karena masa emasnya sudah berakhir. Kadang juga marah karena merasa ini tidak adil. Setelah itu, ibu membungkus diri sendiri dengan selimut atau memeluk diri sendiri. Kamu tahu, rasanya aman dan nyaman. Ibu tidak punya siapapun untuk melakukan itu, dan ibu harap ada seseorang yang akan memelukmu erat suatu saat nanti, agar kamu merasa aman. Tidak harus ibu. Marennu, Kadang muncul pertanyaan bodoh: 'kenapa Marennu datang di saat seperti ini?' yang akhirnya terjawab sendiri, kamu adalah jawaban dari doa kami selama ini. Terus terang, Bapak dan Ibu sangat berhati-hati dalam merencanakan semua kebutuhanmu di masa depan, namun tidak dengan kehadiranmu. Kehadiranmu diinginkan, tapi tidak ada waktu yang kami tentukan untukmu. Ibu ingat persis kalimat yang ibu panjatkan dulu, "ya Allah, hadirkan dia di saat yang tepat menurutMu". Barangkali sekaranglah waktu yang tepat menurut Tuhan (?). Dan memang, waktu Tuhan tidak pernah salah. Kamu, memang hadir di saat yang paling tepat menurut Tuhan dan kamu akan sangat dicintai, nak. Marennu, anakku sayang, Maafkan ibu yang sering mengajak kamu menangis, bergadang dan memikirkan banyak hal disaat seharusnya kamu istirahat. Maafkan ibu yang sering terlambat dan kurang makan karena memikirkan diri ibu sendiri. Maafkan ibu yang memaksa agar kamu bisa mencukupi kebutuhan kasih sayangmu hanya dari ibu. Nak, kita hanya punya satu sama lain saat ini. Ibu harap, kita dapat saling menyayangi dan berjuang sama-sama sampai saatnya kita bertemu nanti. Ibu sayang kamu, Marennu.

Comments

Popular Posts