Panduan Menjadi Ibu

Pertama kali saya tahu bahwa saya sedang mengandung, saya menangis sejadi-jadinya yang ditafsirkan bahwa saya sedang menangis bahagia karena akan ada kehidupan baru di keluarga kami. Tapi kalau boleh jujur, saya panik. Saya bingung, harus melakukan apa setelah ini. Tidak berpengalaman membuat saya meragukan diri sendiri apakah cukup kompeten untuk menjadi ibu. Namun, dia yang akan menjadi seorang anak telah bertumbuh didalam tubuh saya. Di satu sisi saya menginginkan dia lahir, namun di sisi lain saya membayangkan kehidupan yang benar-benar berubah dalam 20-30 tahun mendatang: tentang kebebasan saya yang mulai menyempit, perjuangan saya untuk mengobati luka masa kecil sambil menjadi manusia separuh malaikat bagi seorang anak, dan tuntutan-tuntutan bagi orang beridentitas 'Ibu' lainnya. Sayangnya, menjadi seorang ibu tidak ada panduannya. Tidak ada buku panduan penggunaan seperti ketika kita membeli laptop atau kulkas yang baru. Tidak ada panduan baku untuk menjalani kehamilan yang tenang dan lancar tanpa drama mual muntah, mood swings, sakit perut yang seperti tertusuk jarum, dan anggota tubuh yang membengkak. Ah, satu lagi: tidak ada panduan bagi suami untuk mendampingi istri yang hamil! Ah, untuk iri pun rasanya sudah sangat melelahkan. Saya sudah tidak punya pilihan lain selain belajar melepaskan, mencoba fokus kepada anak yang saya kandung dan mencoba mengatur skenario yang kiranya akan saya lakukan agar saya bisa melahirkan sendiri dengan tenang, tanpa harus mendendam atau membenci siapapun. Sekali lagi, nak, Ibu minta maaf karena sudah terlalu banyak mengeluh. Ibu hanya tidak ingin menunggu kelahiranmu sendiri, tapi Ibu cukup lelah untuk meminta. Kita berdua saja tidak apa ya, nak?

Comments

Popular Posts