Kalau memang disuruh memilih, lebih baik gak usah menikah dulu deh. 

Iya, ini yang saya rasakan setelah 2 tahun lebih menikah. Rasanya, secara pribadi saya stuck; tidak ada kemajuan. Berpindah ke satu kecamatan kecil untuk menyokong suami, saya hanya dikenal sebagai "istinya si anu" Saja. Sedangkan di tempat asal saya, saya dikenal karena kerja keras dan kemampuan saya. 

Just wondering, kemana perginya Qq yang dulu? 
2 setengah tahun memang diisi dengan bahagia, namun kebanyakan tekanan mental yang saya alami. Terlalu banyak silent treatment yang saya terima, terlalu sedikit bicara yang kami lakukan. Sedangkan tumpuan saya hanya pada suami yang ternyata tidak mampu untuk ditumpui. Sepertinya dia hanya siap untuk menikah, belum siap untuk menjadi suami dan ayah seutuhnya, sedangkan keadaan sudah memaksa untuk siap. Terus terang, saya merasa sepi. Sepi yang, barangkali kalau ada sedikit saja pemicu untuk melarikan diri dari kondisi hari ini, saya bisa kabur. 

Beberapa waktu terakhir, akhirnya saya kehabisan energi untuk mempertahankan hubungan kami. Kalau rusak, ya sudah rusak saja. Bukan tanpa usaha, saya sudah mempelajari dan menerapkan ilmu komunikasi, berkonsultasi ke psikolog bahkan sampai meledak, meluapkan semua emosi. Rasanya, seperti tidak berhasil. Memang rasanya hubungan ini sudah tidak berhasil di pihak saya. 

Terus terang, selain karena anak, saya tidak tahu harus bertahan karena apa lagi. 

Comments

Popular Posts